BOGOR - Seorang mahasiswa bernama Adnan Tri (23) ditangkap polisi usai menembak sopir angkot Sapri Sidik (32) dan penumpangnya Soleha di Jalan Raya Mayjen Ibrahim Adji, Kelurahan Sindang Barang, Kota Bogor. Adnan mengaku mendapatkan senjata itu dari rekannya di Bandung, Jawa Barat.

Kapolsek Bogor Barat Kota Bogor, Kompol Indraningtyas mengatakan, dari pemeriksaan sementara diketahui bahwa senjata api yang digunakan pelaku dibelinya dari rekannya di Bandung seharga Rp5 juta.

"Senjata api yang digunakan pelaku ilegal. Pelaku ini membeli senjata dengan harga Rp5 juta tiga bulan lalu dari seorang temannya di daerah Bandung," kata Indraningtyas, Minggu (3/7/2016).

Ia menambahkan, senjata api yang dimiliki Adnan berupa pistol jenis CIS Revolver dengan lima butir peluru berkaliber 22 milimeter. Kepala polisi, pelaku mengaku sengaja membeli senajata dengan alasan untuk menjaga diri.

"Pelaku mengaku membeli (senjata) untuk berjaga-jaga. Saat pertama dibeli, senjata ini berisi lima peluru. Satu peluru sudah digunakan saat coba-coba dan satu peluru lagi digunakan saat menebakkan korban kemarin," tutur Indranigtyas.

Adnan kini sudah ditahan di Mapolsek Bogor Barat dan akan dijerat dengan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang penggunaan tanpa izin. Ancaman hukumannya 20 tahun penjara atau maksimal seumur hidup.

"Kita masih mintai keterangan lebih lanjut lagi di Mapolsek dan kita masih telusuri rekan pelaku yang berada di Bandung untuk mengetahui senajata api ini berasal," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Adnan dibekuk polisi lantaran nekat menembak seorang sopir angkot Sapri Sidik hanya karena tidak terima kendaraannya disalip korban saat mengambil penumpang di Jalan Raya Mayjen Ibrahim Adji, Kelurahan Sindang Barang, Sabtu 2 Juli 2016 sekira pukul 23.30 WIB. Proyektil peluru dilepas pelaku juga melukai seorang penumpang angkot, Soleha. Kedua korban sudah di rawat di RSUD Kota Bogor. [tx]

Sebuah video yang diunggah ke media sosial baru-baru ini telah mengejutkan warga di dunia maya. Betapa tidak, dalam video tersebut menunjukkan seorang wanita hamil tengah memandikan nenek-nenek sembari sesekali dijambak dan dipukuli dengan gayung. 
Dalam video yang berdurasi 3 menit 48 detik yang diunggah oleh Joice Yalina Joe di Facebook, hari Selasa (21/6), tampak seorang nenek renta duduk di atas kursi plastik berwarna hijau dimandikan oleh seorang wanita hamil mengenakan daster biru yang diklaim sebagai cucunya sendiri.
Namun tak hanya membantu mandi si nenek, wanita hamil tersebut tak segan-segan menjambak, menjewer bahkan beberapa kali terlihat memukul kepala wanita tua tak berdaya tersebut. Apa daya, sang nenek tak mampu melawan. Selain itu, dalam postingan Joice pun menambahkan bahwa selain disiksa, nenek ini tiap hari dijemur dipinggir kali.
    Mohon di bantu teman2, nenek ini di siksa oleh cucu nya yang sedang hamil itu, tiap hari di jemur di pinggir kali, kemarin saya dan teman-teman ke rumah nenek tsb, kami mau membantu nenek itu, tapi tidak tau harus di laporkan kemana? thanks

Salah seorang netizen bernama Meyhanie Sweet mengklaim bahwa lokasi video kekerasan terhadap orang tua ini terjadi di daerah Bhakti Tanggul, Tanah Pasar Pluit, Jakarta Utara. Tepatnya persis di pinggir kali.
    Bhakti tanggul .. Tanah pasar pluit… Pinggir kali.. Deket sumur itu persis rumah nya.
Kini, postingan video nenek disiksa cucu ini telah dibagikan sebanyak 7,575 kali, dan telah mengundang setidaknya lebih dari 1300 komentar semenjak beredar di media sosial. Tak sedikit netizen yang merasa geram akan kelakukan wanita hamil yang menyiksa tanpa manusiawi kepada neneknya sendiri.
“Dimana sih alamatnya,sini biar kita bls ketok2 palanya tuh siperut buncit! Mau beranak kelakuan iblis ky gt. Nnt klo tua dia akan lbh parah diperlakukan sm cucunya liat aja, perempuan laknat yg durhaka! Subhanallah,, org tua sprti itu hrsnya dirawat dgn baik sprti bayi.” kata Siska Andreini.
“Jgn salahin yg ngerekam, dibalik kamera mungin dia jga menangis/geram dalam hatinya. justru karna dia (yg ngerekam) kita diingatkan untuk tidak bertindak seperti cucu yg durhaka. memang mengurus nenek itu tidak mudah, harus banyak bersabar. kita doa kan saja untuk si cucu, mudah2 an banyak rejeki untuk nyenengi neneknya. munhkin karna ketidak mampuan akan materi mengubah sisi kemanusiannya luntur.” kata Oso Boutiq.
“Itu tanah pasir bahkti tanggul pinggir kali rt 007/007 rumah nya yg persir deket sumur… Kamu kalo ini lewat aja dia suka di jalanan jam 8 atau 9 pagi.” ucap Mathius Fitzgerald.
“Ya ALLAH ya Tuhan…tolonglah nenek tsb, angkatlah ketempat yg sesuai Dan penuh kedamaian. Ayo tolonglah saudaraku. Yang terdekat segera koordinasikan dengan aparat setempat. Miris Dan sedih sekali Saya melihatnya. Itu perempuan Klu nggak Mau urus matiin aja…aduhhh sedih nglihatnya.” pungkas Anton Wahyoedi.
Selengkapnya silahkan tonton video ini :

Berbeda dengan dukungan total terhadap perayaan tahun baru Masehi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melarang keras Syiar Takbir Keliling menjelang Idul Fitri.

Larangan Syiar Takbir Keliling ini disampaikan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat memimpin rapat forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (29/6/2016).

Djarot bahkan mengancam akan menangkap Umat Islam yang memaksakan diri menggelar takbir keliling. Djarot berdalih bahwa takbir keliling berpotensi menimbulkan tawuran dan kerusuhan.

“Akan ditertibkan. Kalau perlu penumpangnya (bila pakai truk) diturunkan secara baik, karena itu tidak boleh. Janganlah. Ini malam takbiran digunakan untuk takbiran keliling nanti malah celaka, malah tawuran,” tegas Djarot.

Untuk mengawasi umat Islam, Pemrov DKI Jakarta sudah bekerja sama dengan Personel kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Prasa (Satpol PP) akan menangkap umat Islam yang melakukan Syiar Takbir Keliling.[tx]

Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama yang berpengaruh di daerah Minangkabau penyebar Islam di Kerajaan Pagaruyung. Gerbang Makam Syekh Burhanuddin. (Foto: Ist)
Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama yang berpengaruh di daerah Minangkabau penyebar Islam di Kerajaan Pagaruyung. Dia dikenal sebagai ulama sufi pengamal Tarekat Shatariyah yang melawan penjajahan VOC.

Ulama besar yang bernama asli Pono ini lahir di Pariaman. Ayahnya Pampak Sati Karimun Merah bersuku Koto dan Ibunya Cukuik Bilang Pandai bersuku Guci.
 
Kehidupan sehari hari si Pono kecil tidak ubahnya seperti anak seusianya yang selalu bejajar dan bermain namun ada kekhususan yang setiap malam diajarkan ayahnya yaitu ilmu kebatinan dan pencak silat. Waktunya banyak dia habiskan di bukit untuk merenung sambil menggembala kerbau dari penggembalaan ini dia mendapat teman akrab bernama Idris.

Sehingga suatu ketika saat menggembala, harimau mengintai untuk memangsanya namun berbekal pelajaran beladiri dari ayahnya si Pono bisa mengusir binatang buas tersebut.

Namun malang baginya urat kakinya putus terkena kuku harimau tersebut. Sehingga akibat peristiwa itu dia menjadi pincang.

Kemudian Pono mendapat kabar ada guru agama di negeri rantau pesisir Minangkabau yaitu seorang ulama dari Mekkah yang terkenal dengan sebutan Tuanku Madinah.

Cerita ini menarik minat Pono maka diutarakanlah niat tersebut pada ayahnya untuk belajar Agama Islam di Tapakis pada Tuanku Madinah.

Melihat semangat anak kesayangannya dan hiba membayangkan anaknya yang selalu diperolok-olok kan temannya karena pincang maka niat tersebut dikabulkan oleh ayahnya untuk pindah sekaligus membuka lapangan usaha di daerah baru.

Karena kecerdasannya dan kemauannya yang kuat dalam mempelajari agama maka dengan cepat Pono berhasil menguasai semua pelajaran yang diberikan Tuanku Madinah. Kemudian Pono disuruhnya pergi berguru ke Aceh menemui Syekh Abdurrauf di Singkil.

Untuk Pono berinisiatif pergi ke Aceh agar bisa menghindari kemarahan masyarakat yang mulai main kasar bahkan ingin membunuhnya karena ajaran Islam tersebut menghalangi adat kebiasaan mereka dalam berjudi dan bersabung ayam.

Dengan bekal keberanian dan keyakinan yang kuat untuk menambah ilmu agama ke Syekh Abdurrauf di Aceh kemudian Pono bertemu dengan empat orang  yang juga ingin berguru ke ulama Aceh tersebut.

Adapun teman berempat yang bertemu Pono adalah Datuak Maruhun Panjang dari Padang Gantiang, Batu Sangkar ; Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh Solok; M Nasir dari Koto Tengah; Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah.

Akhirnya mereka tiba di Singkil, dan langsung menemui Syekh Abdurrauf di kediamannya sekaligus mengutarakan maksud kedatangan.

Melihat kedatangan Pono, Syekh Abdurrauf teringat akan pesan gurunya bahwa nanti akan ada calon muridnya datang dari arah selatan yang akan menjadi penyuluh agama mewarisi ajarannya. Di mana orang tersebut kakinya cacat namun pintar dan berbudi pekerti yang tinggi.

Maka tanpa ragu sang Mufti langsung menerima kelima orang ini menjadi murid. Latar belakang Pono yang berasal dari keluarga bangsawan dan keahliannya dalam mengolah alam buah pembelajaran keras yang diberi ayahnya sangat berguna diterapkan di pesantren.

Sehingga Syekh Abdurrauf mempercayakan Pono untuk mengurus keperluan pesantren, dari  membuat  dan memelihara ikan di kolam, berkebun dan ke sawah juga menggembala sapi kepunyaan Sang Syeikh.

Hal itu dia lakukan tanpa membantah karena Pono menyadari dalam ilmu tareqat apapun alirannya dalam menuntut ilmu, “murid dihadapan guru ibarat mayat di tangan orang yang memandikannya”.

Dalam hikayat, suatu hari Syekh Abdurrauf menguji santrinya dengan memanggil dan menyuruh mereka untuk mengambil bejana yang menurut sang Syekh jatuh di WC pesantren yang penuh kotoran manusia.

Dari sekian banyak santri hanya Ponolah yang mau sepenuh hati menyelami WC penuh tinja tersebut tanpa memperhitungkan bau busuk kotoran dan menyerahkannya pada sang guru setelah dia samak dan bersihkan.

Ketika Syekh Abdurrauf dapat undangan ke sebuah pulau maka dia bergegas pergi dengan beberapa santri dan berpesan pada santri yang tinggal agar menyuruh Pono menyusulnya ke pulau tersebut.

Mendapat tugas dari sang guru yang dia junjung tinggi Pono bergegas ke tepi pantai tetapi setiba di tepi pantai dia tidak mendapat sebuah perahupun untuk berangkat ke pulau.

Maka atas izin Allah dengan keyakinan penuh tubuhnya menjadi ringan seringan kapas dan dia bisa berjalan diatas air seakan-akan ada kayu penyangga yang menopangnya saat dia melangkah menuju pulau.

Peristiwa ini disaksikan oleh santri baik dari daratan maupun di seberang pulau sehingga ini menjadi salah satu kekeramatan Pono.

Kejadian serupa juga terjadi disaat Pono sedang membetulkan atap rumah dimana ada potongan kayu terjatuh dan akan mengenai anak gadis sang guru maka dengan seketika Pono melayang ke bawah untuk menyambut kayu tersebut.

Salah satu peristiwa mashur yang menjadi pegangan kaum sufi adalah disaat Pono diuji keimanannya akan godaan wanita.

Saat itu Pono disuruh menjaga anak gadis sang guru yang lagi mekar-mekarnya di rumah sementara Syekh Abdurrauf pergi memenuhi undangan panggilan kerajaan. Kiranya bangkitlah nafsunya melihat anak sang guru yang sedang ranum.

Namun untuk melawan nafsunya sendiri dia mengambil keputusan yang sangat mahal dengan pergi menjauh dan memukul alat kelaminnya dengan batu.

Bagi Pono dari pada jadi budak nafsu setan dan menjadi orang terbuang di dunia dan di akhirat lebih baik menghukum alat kelamin yang menjadi sumber pemicu pelampiasan hawa nafsu.

Cukup lama Pono menderita penyakit akibat cidera alat kelaminnya dan ketika sembuh dia tetap melakukan tugas semula seperti melayani kebutuhan santri dengan bijak. Hal inilah yang membuat Syekh Abdurrauf menjadi lebih perhatian padanya.

Karena minat serta perhatiannya sungguh luar biasa apalagi diikuti dengan daya ingatnya yang tinggi membuat Pono termasuk murid yang terpandai di antara santri lainnya.

Kejadian serupa juga terjadi disaat Pono sedang membetulkan atap rumah dimana ada potongan kayu terjatuh dan akan mengenai anak gadis sang guru maka dengan seketika Pono melayang ke bawah untuk menyambut kayu tersebut.

Salah satu peristiwa mashur yang menjadi pegangan kaum sufi adalah disaat Pono diuji keimanannya akan godaan wanita.

Saat itu Pono disuruh menjaga anak gadis sang guru yang lagi mekar-mekarnya di rumah sementara Syekh Abdurrauf pergi memenuhi undangan panggilan kerajaan. Kiranya bangkitlah nafsunya melihat anak sang guru yang sedang ranum.

Namun untuk melawan nafsunya sendiri dia mengambil keputusan yang sangat mahal dengan pergi menjauh dan memukul alat kelaminnya dengan batu.

Bagi Pono dari pada jadi budak nafsu setan dan menjadi orang terbuang di dunia dan di akhirat lebih baik menghukum alat kelamin yang menjadi sumber pemicu pelampiasan hawa nafsu.

Cukup lama Pono menderita penyakit akibat cidera alat kelaminnya dan ketika sembuh dia tetap melakukan tugas semula seperti melayani kebutuhan santri dengan bijak. Hal inilah yang membuat Syekh Abdurrauf menjadi lebih perhatian padanya.

Karena minat serta perhatiannya sungguh luar biasa apalagi diikuti dengan daya ingatnya yang tinggi membuat Pono termasuk murid yang terpandai di antara santri lainnya.

Tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Ulakan yaitu tempat penolakan kedatangan Rombongan Syekh Burhanuddin.

Berita perkelahian yang memakan korban ini sampai ke para jagoan di Tujuh Koto sehingga mereka segera menyusul untuk menangkap Katib Sangko. Namun rombongan Katib Sangko sangat kuat sehingga para jagoan tersebut tewas.

Peristiwa ini membuat Kalik-Kalik jantan seorang tokoh masyarakat setempat gelap mata sementara rombongan Katib Sangko juga banyak yang tewas.

Karena mengetahui Kalik-kalik jantan kebal terhadap senjata tajam akhirnya Katib Sangko yang melapor pada Syekh Burhanuddin.

Oleh Syeikh Burhanuddin, Katik Sangko disuruh melapor pada Syekh Abdurrauf tentang kejadian ini. Oleh Syekh Abdurrauf Katik sangko diajarkan cara menghilangkan ilmu kebal Kalik-kalik Jantan.

Setelah tiba di Pulau Angso, Syekh Burhanuddin memerintahkan kembali menyerang dari Pantai Pariaman di pagi hari maka pertempuran kembali pecah dan kali ini Kalik Kalik Jantan akhirnya terbunuh oleh Katik Sangko.

Tewasnya Kalik-kalik jantan berdampak pada menyerahnya pengikut Kalik-kalik jantan di seluruh Pariaman selanjutnya Katib Sangko dinobatkan menjadi Mufti di Tandikek.

Setelah merasa aman Syekh Burhanuddin mulai mencari informasi tentang keberadaan kawan karibnya yang kiranya telah diangkat menjadi pemuka masyarakat dengan gelar Majolelo.

Maka melalui nelayan yang singgah di pulau Syekh Burhanuddin mengirim pesan pada Idris bahwa dia adalah si Pono yang dahulu pergi belajar ke Aceh.

Mendapat informasi bahwa yang datang adalah Pono yang kini bergelar Syekh Burhanuddin maka Idris Majolelo mengajak ninik mamak, pemuka adat sanak kerabat dan tokoh masyarakat untuk menjemputnya.

Sebagai tanda kenang-kenangan kembali dari menuntut ilmu, Syekh Burhanuddin menanam ranting pinago biru yang dibawa dari Aceh. Beliau berpesan kepada Idris Majo Lelo bila ajal sampai kelak dia minta dikuburkan dekat pinago biru ini.

Untuk memudahkan pengembangan syiar agama Syeikh Burhanuddin meminta masyarakat agar membawa anaknya ke surau untuk bermain bersamanya. Disinilah cikal bakal pengembangan ilmu agama yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin.

Sistim pembelajaran yang dilakukan Syekh Burhanuddin tidak seperti biasa, dia melakukannya sambil bermain, semua Permainan yang ada dimasyarakat saat itu dia ikuti, dari Sepak Rago, main gundu dan layang-layang semua dilakoninya namun setiap memulai permain dia selalu membaca basmallah dan doa-doa lain yang membuat dia menang.

Hal ini menimbulkan minat anak –anak untuk mengetahui dan belajar  apa isi doa yang dibaca Syekh Burhanuddin menjadi tinggi.

Untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Minangkabau cara yang dilakukan Syeikh Burhanuddin meniru cara gurunya Syekh Abdurrauf, dengan kuasa dan restu Raja Pagaruyung.

Maka Syekh Burhanuddin dan pengikutnya diberikan wewenang seluas-luasnya mengembangkan agama Islam di seluruh Minangkabau.

Tahun 1692 Syekh Burhanuddin berpulang ke Rahmatullah dalam usia 85 tahun, kematiannya menimbulkan misteri hingga kini karena setelah jasadnya saat dikapani dan hendak dikubur di samping Surau Tanjung Medan raib.

Konon menurut cerita tak lama berselang tersebarlah kabar bahwa ada masyarakat yang melihat dan mendengar ada cahaya yang diiringi suara gandangtasa terbang melayangdan turun di dekat pohon Pinago Biru maka dinisbatkanlah lokasi tersebut adalah makam Syekh Burhanuddin sesuai wasiatnya dulu.

Sumber :
- pariamannews
- wikipedia dan diolah dari berbagai sumber

JAKARTA - Untuk mewujudkan pembangunan Masjid Istiqlal  butuh perjuangan ekstra. Setelah ditetapkan pembangunan masjid di atas Taman Wihelmina butuh kerja keras terlebih dahulu yang dilakukan rakyat bersama TNI (ABRI-saat itu).

Kepala Bagian Protokol dan Pelayanan Wisata Masjid Istiqlal Abu Hurairah Abdul Salam menuturkan, di Taman Wihelmina terdapat bekas benteng yang harus dibongkar terlebih dahulu bila ingin membangun masjid. Pada tahun 1960, seluruh rakyat bersama ABRI melakukan kerja bakti untuk membersihkan bangunan benteng tua yang sudah tidak terpakai.

Barulah pada 24 Agustus 1961, tiang pancang untuk fondasi Masjid Istiqlal ditancapkan. “Saat itu Bung Karno yang memimpin
pemancangan tiang pertama. Beliau juga menjabat kepala bidang teknik dalam kepanitiaan pembangunan Masjid Istiqlal,” tutur Abu kepada Sindonews beberapa waktu lalu.

Abu menjelaskan, pembangunan Masjid Istiqal tidak lah mulus terdapat sejumlah hambatan terkait dinamika politik yang terjadi di
Jakarta. Bahkan, pada saat peristiwa G30 S/PKI sekitar tahun 1965, pembangunan Masjid Istiqlal sempat berhenti.

Jabatan Bung karno sebagai koordinator panitia nasional Masjid Istiqlal digantikan oleh Idham Chalid. Sejak saat itu pula, Menteri Agama KH M Dahlan mempelopori pengumpulan dana pembangunan masjid.

Meskipun mendapatkan halangan, masjid yang rencananya selesai pembangunan hingga berpuluh-puluh tahun itu, akhirnya bisa diselesaikan secara keseluruhan dalam kurun waktu 17 tahun.“Bangunan utama dapat selesai dalam waktu 6 tahun tepatnya pada 31 Agustus 1967 dan sudah dapat digunakan. Secara keseluruhan pembangunan Masjid Istiqlal diselesaikan dalam kurun waktu 17 tahun. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978,” ujar Abu. [ts]

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selaku Gubernur DKI Jakarta tidak dapat menyimpan kekecewaannya terkait keputusan dibatalkannya proyek reklamasi pulau G oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli.

Ahok berpendapat, seharusnya yang mengetok palu dihentikan atau dilanjutkannya proyek tersebut adalah Presiden. Ahok beralasan karena  reklamasi dikerjakan atas payung hukum Keputusan Presiden (Keppres).


“Itu (harusnya) yang ngajuin ke Presiden dong Menteri, karena enggak ada Menteri Kemenko yang bisa membatalkan Keppres kan,” ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat (1/07/2016). Kendati demikian, pria kelahiran Manggar, Belitung Timur itu enggan berspekulasi lebih jauh untuk membahas hal tersebut.

Menurutnya, apapun keputusan pemerintah pusat akan diikutinya. “Kita mah nunggu aja, nurut aja,” tuturnya.
Sebelumnya, Menko Rizal memutuskan menghentikan reklamasi Pulau G selamanya karena telah melakukan pelanggaran berat. “Reklamasi Pulau G memenuhi unsur pelanggaran berat, jadi kita hentikan untuk selamanya,” kata Rizal saat memimpin Rakor bersama Tim Gabungan di kantornya, Gedung BPPT, Jakarta, kemarin.[ts]

AKTUAL-Tak ada hari besar keagamaan di negri ini yang dimeriahkan semeriah dan segegap gempita Idul Fitri. Anggaran rumahtangga pun membengkak, sehingga THR (Tunjangan Hari Raya) menjadi kewajiban setiap perusahaan pada karyawannya. Tapi di negri ini pula, sejumlah ormas paling kenceng mencari THR ke perusahaan-perusaahan, padahal mereka bukan karyawan perusahaan atau pembantunya seorang majikan.
Lebaran merupakan kearifan lokal yang hanya ada di Indonesia. Karena 90% rakyatnya beragama Islam –termasuk yang hanya dalam KTP– tanggal 1 Syawal sebagai hari Idul Fitri disambut semeriah mungkin. Tak hanya salat Ied di mesjid maupun lapangan, tapi juga setiap rumah menyambut para tamu dengan kue-kue lezat, anak-anak, orang tua pakai baju baru, sepatu baru, termasuk akik baru.

Ini semua perlu anggaran ekstra, sehingga pemerintah pun melalui Kementerian Tenaga Kerja mewajibkan perusahaan memberikan THR kepada karyawannya. Para majikan pun ikut memberi THR pada pembantunya, RT-RW juga memberikan THR bagi tukang sampah dan satpamnya. Bahkan mulai tahun ini, PNS yang tak diberi THR oleh negara, kini menerima gaji ke-14 agar bisa menyambut Lebaran dengan senyum.

“Institusi” lain seperti preman, bahkan ormas, banyak juga yang memanfaatkan moment Lebaran ini. Dengan mencatut “anak yatim”, mereka mensweping perusahaan-perusaaan untuk mendapatkan jatah THR. Mereka rajin menyebar proposal ke sana kemari dengan kalimat sakti, “perusahaan Anda berada di lingkungan kami”.

Sebenarnya tak ada aturan perusahaan harus memberi THR pada ormas-ormas itu. Memangnya yang punya wilayah itu ormas, memangnya yang mengeluarkan perizinan usaha itu ormas? Apa jasa atau kontribusi mereka pada sebuah perusahaan? Tapi yang terjadi, justru ormas-ormas itu yang paling kenceng cari THR ke sana kemari.

Tapi perusahaan itu kebanyakan hanya mengalah. Ketimbang rame jika tak mau disebut “diteror”, beri saja itu uang THR. Soal dana itu sampai pada “anak yatim” atau tidak, bukan urusannya. Polisi pun tak bisa berbuat apa-apa, sepanjang ormas proposal itu minta THR secara sukarela dan tidak memaksa. Tapi jika sudah mulai memaksa dan menakut-nakuti, barulah polisi bisa bertindak keras. – gunarso ts [ts]

AKTUAL-M Taufik yang merupakan politisi Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta memprediksi relawan ‘Teman Ahok’ akan  digugat oleh rakyat yang memberikan KTP-nya untuk Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok jika dia gamang dengan pendiriannya atau beralih ke partai politik. 

“Ya siap-siap saja Teman Ahok akan dituntut jika Ahok benar pilih jalur parpol,” tutur M Taufik, Jumat (1/07/2016).

Menurut Taufik, Ahok terlihat gamang dengan kondisi yang serba menyulitkannya saat ini, sehingga dia harus berposisi mendua dan seolah tidak ada keyakinan dalam dirinya.

“Ahok ini selalu mendua dan dia itu pemburu kekuasaan,” tutur dia. Taufik menyakini siapapun yang akan berhadapan dengan Ahok pasti menang.

Pria tersebut juga  juga mengkritisi Teman Ahok yang seolah tidak ada militansinya disaat Ahok diusir oleh warganya di Jakarta Utara.

“Katanya teman Ahok sejuta orang, harusnya marah donk. Mana, ada gak? Jangan cuma main di medsos, dunianya cuma menghayal. Ya yakin saja suaranya juga ikut menghayal,” tandasnya. [tx]
 

Said Aqil Siradj yang merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengaku sangat prihatin dengan maraknya kasus korupsi belakangan ini, yang bahkan beberapa di antaranya terjadi di bulan Ramadhan. Said berpendapat bahwa hukuman mati pantas diberikan bagi koruptor karena menyebabkan negara bangkrut.

“Yang korupsinya merugikan negara itu hukumannya terserah hakim. Kalau korupsi yang sampai membikin negara kolaps dan bangkrut, hukum mati. Siapapun itu. Kalau sekadar korupsi Rp100 juta belum bangkrut, tapi bikin rugi negara. Tapi kalau sampai membangkrutkan, krisis, jatuh ekonomi negara, hukum mati itu,” tegasnya ketika ditemui usai berbuka puasa bersama di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (30/6/2016) malam.

Said juga menyatakan bahwa momentum puasa seharusnya memunculkan kesadaran bahwa perilaku sekecil apapun akan ada konsekuensinya. “Perilaku tamak dan rakus bukan hanya dilakukan oleh kelompok tertentu. Kalau tidak betul-betul memiliki kepribadian kuat dalam menghadapi godaan, semua bisa tergiur,” tutur dia.

Said mengatakan hal tersebut menanggapi terungkapnya beberapa dugaan kasus suap oleh KPK di bulan Ramadhan, yang salah satu di antaranya melibatkan anggota legislatif. Pria tersebut juga prihatin dengan banyaknya para penegak hukum, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang terlibat kasus tindak pidana korupsi.

Said berpendapat para koruptor tersebut tidak memiliki kepekaan terhadap masalah pelanggaran hukum. “Contohnya melanggar lampu merah. Itu kita seharusnya merasa salah, jangan merasa benar karena dianggapnya biasa saja dan kemudian tidak ada rasa bersalah, padahal kita melanggar hukum,” kata dia.[tx]


JAKARTA - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai, seringnya oknum di pengadilan terjerat kasus suap merupakan persoalan serius bagi bangsa Indonesia. Bahkan dia menyebut Indonesia masuk ke dalam kategori darurat penyalahgunaan kekuasaan.

"Ini menunjukan bahwa Indonesia masuk kategori darurat penyalahgunaan kekuasaan," kata Hasto di Kantor DPP PDI Perjuangan Lenteng Agung Jakarta Selatan, Sabtu (2/7/2016).

"Artinya ini benar-benar persoalan serius. Oleh karena itu, diperlukan komitmen untuk mencegah berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan korupsi," sambung dia.

Menurutnya, untuk memberantas persoalan korupsi diperlukan kerjasama semua pihak. Pasalnya menurut Hasto bangsa Indonesia baru bisa maju jika sudah bisa mengatasi penyakit sosial, hukum hingga korupsi.

PDI Perjuangan sendiri selalu melakukan otokritik dan menjaga disiplin anggota partai sehingga pengalaman kader yang terjerat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

"Jadi kami mengingatkan terus. Ini mengingatkan bahwa persoalan korupsi benar-benar merupakan persoalan bersama," katanya. "Apa yang dilakukan KPK harusnya memberikan efek jera bahwa penyalahgunaan kekuasaan tidak boleh dilakukan‬," tukasnya. 

Seperti yang diketahui dalam waktu yang cukup singkat, KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap oknum panitera di pengadilan yakni Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, PN Jakarta Utara, dan PN Kapahiyang di Bandung.[tx]